Ekonomi Global Menyerang, Sumbar Jadi Korban


 Oleh : Indah Gusti Safitri 
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SMDD Bukittinggi)

Kebijakan ekonomi global sering kali dianggap jauh dari kehidupan masyarakat daerah. Namun, keputusan Amerika Serikat menaikkan tarif impor terhadap produk dari negara berkembang menunjukkan bahwa dampaknya bisa langsung dirasakan hingga ke Sumatera Barat.

Langkah AS, Sumbar Jadi Korban Ekonomi Global
Kebijakan proteksionisme Amerika Serikat membuat produk ekspor Indonesia kehilangan daya saing. Sumatera Barat yang menggantungkan perekonomiannya pada komoditas seperti sawit, kopi, dan karet ikut merasakan imbasnya. Permintaan pasar turun, harga anjlok, dan para petani serta nelayan pun terpukul. Dampaknya nyata di lapangan, terutama bagi daerah yang belum siap dengan perubahan global. Saat keputusan besar dibuat jauh di luar negeri, rakyat Sumbar menanggung risikonya.

Sumatera Barat di Simpang Jalan Ekonomi
Sumatera Barat mengandalkan komoditas seperti minyak kelapa sawit, karet, kopi, perikanan, rempah-rempah, hortikultura, batu bara, dan bahan tambang sebagai produk ekspor utama, yang diekspor ke negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Minyak kelapa sawit menyumbang hampir 80% dari total ekspor. Namun, kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat membuat produk Indonesia kurang kompetitif, yang menyebabkan penurunan permintaan, melambatnya produksi, dan terganggunya ketenagakerjaan.

Dampak Riil di Tingkat Kabupaten
Kebijakan ekspor yang tersendat jelas memberikan pukulan langsung ke daerah-daerah yang bergantung pada komoditas unggulan.
1. Pasaman dan Solok Selatan – Komoditas Kopi
Penurunan permintaan dari luar negeri memukul langsung pengrajin kopi, karena sektor ini sangat tergantung pada pasar ekspor. Stok yang menumpuk dan harga yang tidak bergerak menjadi bukti lemahnya sirkulasi ekonomi lokal ketika pasar luar lesu.
2. Dharmasraya dan Pesisir Selatan – Minyak Sawit dan Produk Nabati
Saat ekspor sawit melambat, efek dominonya langsung terasa. Pabrik memperlambat produksi untuk menekan biaya, sementara petani menanggung kerugian dari harga jual yang makin rendah. Ini menunjukkan betapa rentannya ekonomi berbasis monokultur terhadap kebijakan global.
3. Agam dan Lima Puluh Kota – Karet dan Perikanan
Harga lateks yang jatuh menunjukkan lemahnya daya tawar petani di tengah fluktuasi pasar internasional. Industri perikanan pun terdampak karena sebagian besar hasil produksi ditujukan untuk ekspor, yang kini terganjal distribusi.
4. Padang dan Payakumbuh – Sektor UMKM
UMKM yang selama ini tumbuh lewat produk olahan ekspor mengalami krisis permintaan. Minimnya diversifikasi pasar dan ketergantungan pada buyer luar negeri membuat mereka rawan guncangan. Inilah bukti lemahnya daya tahan sektor usaha kecil terhadap tekanan global.

Luka Struktural: Bergantung Tanpa Cadangan
Masalah utamanya bukan hanya tarif impor, tapi ketergantungan ekonomi pada pasar luar. Produk unggulan Sumbar masih diekspor dalam bentuk mentah. Saat terjadi guncangan global, kita tak punya cadangan kekuatan ekonomi dari dalam negeri.

Saatnya Perkuat Dari Dalam
Diversifikasi pasar ekspor adalah solusi jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang, Sumbar butuh industrialisasi lokal, digitalisasi UMKM, peningkatan kualitas SDM, serta penguatan konsumsi domestik. Ekonomi kuat lahir dari fondasi dalam negeri yang kokoh.

Krisis sebagai Peluang Transformasi
Meskipun kebijakan internasional tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah daerah, respons yang tepat dapat menentukan arah masa depan ekonomi Sumbar. Krisis ini seharusnya jadi panggilan untuk memperbaiki arah ekonomi Sumbar. Daerah yang cepat beradaptasi akan keluar sebagai pemenang.

(Indah Gusti Safitri Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UIN Bukittinggi dan Kemenag Kabupaten Solok Teken Nota Kesepakatan